Meskipun ada pola dan siklus yang dapat diprediksi, terdapat juga faktor tak terduga

seperti keruntuhan dinding dapur magma, seperti yang terjadi dalam kasus letusan Gunung Ontake di Jepang.

Di atas dapur magma, meskipun tidak secara langsung terhubung dengan tubuh gunung api, faktor eksternal seperti pelelehan es di puncak gunung (seperti yang terjadi di Gunung Fuji), badai (seperti pada Gunung Pinatubo), gelombang laut (seperti pada Gunung Gamalama), dan gempa bumi dapat memicu letusan.

Fenomena alam yang kerap terjadi saat suatu gunung api erupsi adalah sambaran petir yang berada tepat di puncak gunung. Peristiwa tersebut seperti yang sempat teramati saat Gunung Ruang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, erupsi beberapa waktu lalu.

“Explosive dengan kecepatan tinggi, maka  https://poloclubapt.com/ yang tadinya senyawa a dan b akan putus menjadi a plus dan b minus, atau dalam konteks yang lebih kecil skala atom. Adanya tekanan yang tinggi itu, elektron-elektron tersebut dipaksa keluar, sehingga menjadi elektron bebas,\” terang.

\”Ketika sudah ada elektron bebas atau b minus tersebut, maka itu adalah cikal bakal syarat utama terbentuknya petir. Lalu ketika elektron bebas sudah ada, maka selanjutnya petir akan terjadi,” imbuhnya.

Partikel-partikel yang terlontar, kata Mirzam, dapat terlontar dengan kecepatan tinggi kemudian bergesekan satu sama lain yang akhirnya menghasilnya muatan listrik.

“Jadi, peristiwa gemuruh petir yang terjadi saat gunung api erupsi merupakan hal yang biasa, ini hanya menunjukan eksplosivitas yang tinggi saja,” tuturnya.